Jakarta – Nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren melemah hingga mendekati kisaran Rp 17.900 per dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan ini dinilai memicu alarm bagi pasar keuangan domestik, seiring semakin dekatnya mata uang garuda menguji level psikologis baru di angka Rp 18.000.
Saat ini, para pelaku pasar dilaporkan sedang bersikap waspada dan mencermati berbagai sentimen global yang diprediksi bakal menjadi kompas arah gerak rupiah dalam beberapa hari mendatang.
Nanang Wahyudin, selaku Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, mengungkapkan bahwa ambang batas Rp 18.000 kini sudah berada di depan mata. Risiko ini kian nyata apabila keperkasaan indeks dolar AS terus berlanjut di kancah global dan memicu aksi hindar risiko (risk-off).
“Dengan posisi rupiah yang saat ini bertengger di kisaran Rp 17.900, level psikologis Rp 18.000 sudah sangat dekat. Terlebih jika penguatan dolar global serta sentimen risk-off di pasar masih mendominasi,” ujar Nanang saat diwawancarai, Kamis (4/6).
Menurut analisisnya, keterpurukan rupiah mencerminkan tingginya sensitivitas pasar terhadap dinamika eksternal. Faktor-faktor luar negeri ini sangat memengaruhi arus modal asing (capital flow) sekaligus menahan minat investor terhadap aset-aset berisiko di pasar berkembang.
Meski tekanan kian berat, Nanang melihat potensi rupiah untuk menembus dan bertahan di atas level Rp 18.000 pada pekan ini masih dikategorikan sebagai skenario risiko, bukan target utama (baseline scenario). Namun, peluang tersebut bisa saja bergeser dengan cepat.
Pekan Ini: Penembusan angka Rp 18.000 masih dianggap sebagai batas risiko ekstrem.
Pekan Depan: Analis memperkirakan pengujian level Rp 18.000 justru berpotensi menguat pada awal pekan depan, dengan syarat tensi global tidak mengendur dan ruang intervensi dari Bank Indonesia mulai terbatas.
Apabila tekanan eksternal gagal mereda, pelaku pasar diproyeksikan bakal semakin gencar memburu aset aman (safe haven), di mana dolar AS menjadi pilihan utama.
Dalam jangka pendek, komoditas penggerak pasar keuangan akan sangat bergantung pada rilis data makroekonomi teranyar dari Negeri Paman Sam. Fokus utama investor tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls).
Jika Data Tenaga Kerja AS Solid: Ekspektasi suku bunga tinggi akan bertahan, memicu dolar AS kian perkasa, dan semakin menjepit posisi rupiah.
Jika Data Tenaga Kerja AS Melandai: Tekanan terhadap rupiah diprediksi mereda, memberikan ruang konsolidasi bagi mata uang domestik.
“Pasar akan sangat sensitif terhadap data eksternal, khususnya raport tenaga kerja AS terbaru. Selain itu, perkembangan geopolitik global juga krusial karena berdampak langsung pada fluktuasi harga minyak dunia yang berpotensi menyulut kembali inflasi global,” pungkas Nanang.







